Sang Pejuang

Sumber gambar: dokumentasi pribadi

Sang Pejuang
Oleh : Sitti Firanta Nelma

Syukur alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta'ala masih memberikan kita kenikmatan Iman dan Islam, kenikmatan hidup bersama Al-Qur'an.

Senang bisa bergabung dengan Sohibul Qur'an. Melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, membuat perubahan untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Bangga? Tentu saja!
Saya sangat bangga bisa berada di ma'had tahfiz ini. Belajar memperbaiki bacaan Al-Qur'an, membacanya, menghafalkannya, memahaminya, mengamalkannya, dan tentunya belajar hidup bersama Al-Qur'an, tiada waktu tanpa Al-Qur'an.

Setelah beberapa bulan berada di Sohibul Qur'an, banyak pengalaman hidup yang saya dapatkan, perasaan yang campur baur; mulai dari sedih, senang, kecewa, dan terharu. 

Sedih ketika sulitnya menghafal!
Kecewa ketika hafalan belum lancar!
Senang ketika hafalan lancar dan mutqin!
Terharu karena tidak ada perjuangan yang sia-sia!
Begitulah romantika kehidupan mewarnai hari-hari para penghafal Al-Qur'an.

Semenjak berada di Sohibul Qur'an pula, saya baru menyadari bagaimana realita kehidupan, bahwa tidak ada hidup yang sia-sia, jika kita senantiasa melakukan kebajikan.

Hidup itu tidak selamanya bermaniskan gula, tetapi terkadang pahit bagaikan kopi. Namun, jika kita menjalaninya dengan ikhlas, mengharap ridha Allah, InsyaAllah semuanya tidak ada yang sia-sia. Sebab segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah itu tidak ada yang sia-sia. Semuanya pasti ada manfaatnya!

Musibah saja bagi orang beriman ada manfaatnya. Apa manfaatnya?
Untuk memperkuat iman, menguji iman seseorang, meningkatkan derajat, dan masih banyak lagi. Begitulah makna kehidupan yang saya pahami selama di Sohibul Qur'an.

Sohibul Qur'an bagi saya adalah universitas kehidupan, banyak ilmu yang saya dapatkan. Bahwa perjuangan itu bukan hanya sebatas kata-kata "Saya telah Berjuang!" Namun, harus dibuktikan dengan cara mempraktikkan perjuangan itu sendiri tanpa ada rasa ingin menyerah di tengah jalan, karena perjuangan itu tidak semulus jalan tol, tetapi ada kalanya kita terjatuh dan harus bangkit kembali.

Seorang pejuang harus siap dengan istikamah, karna istikamah itu tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. "Yang berat itu istikamah, kalo ringan namanya  istirahat!" Ucap Ummi Fitri saat halaqoh pekanan.

Istikamah itulah yang harus di pertahankan oleh sang Pejuang, tanpa ada rasa putus asa dan takut ketika terjatuh.

Selamat Berjuang bagi Pejuang!
Selamat menyambut Kesuksesan!

Jakarta, 24 Oktober 2018
diedit oleh: Umi Fitri

Posting Komentar

0 Komentar